Rumah Pertama

Aku baru saja mengetik sebuah pesan di handphoneku untuk seorang kawan lama, “Tahu nggak Teng, delapan tahun lalu, tepat hari ini, kita pertama kali kenalan. Dikenalin ama Pak Amin,”. Namun aku buru-buru menghapus draft pesan itu. Aku berpikir tak layak rasanya mengirimkan pesan personal seperti itu kepada seorang teman yang sudah beristri.

Ya, delapan tahun lalu.  Ruang redaksi dipenuhi semua karyawan. Di tengah kerumunan ada meja yang penuh dengan tumpeng, roti tart, jajanan pasar, dan lain sebagainya. Sore itu, para karyawan merayakan hari jadi kantor mereka yang ke-11. Sementara itu aku meringkuk di sudut ruangan dan tak tahu harus bersikap bagaimana. Aku kikuk seperti anak baru pada umumnya dan hanya menyapu pandangan ke sembarang tempat. Hari itu adalah hari pertama aku bekerja di situ, sebuah kantor media berdominasi cat biru di Ringroad Utara Jogjakarta bernama Radar Jogja (Radja).

Aku selalu menanggap bahwa hubunganku dengan kantor ini memang sudah ditakdirkan. Sudah jodoh begitu. Sebelumnya, sekitar tahun 2009, aku bekerja sebagai intern selama setahun di Biro Humas kampusku. Dari situ aku mengenal banyak wartawan yang meliput di desk pendidikan. Salah satunya adalah wartawan koran ini. Kala itu, reputasi sang wartawan tersebut sangat baik di mataku. Ia adalah wartawan yang pintar, tidak menerima amplop, dan memiliki pribadi yang menarik. Representasi yang baik itu membuat aku bercita-cita menjadi seperti sang wartawan.

Namun semua tidak semulus yang aku khayalkan. Usai lulus, Merapi mengalami erupsi dan orangtuaku memaksaku untuk pulang kampung ke Medan. Di kampung halaman, aku pun mencari kerja ke sana kemari selama 4 bulan hingga putus asa. Aku tidak punya koneksi, bahkan aku buta tentang kota Medan. Seperti pengguna Facebook baru pada umumnya, aku pun sering berkeluh kesah di platform sosmed itu. Aku bilang aku ingin jadi wartawan, tapi orang tuaku sibuk menyuruh jadi PNS. Memang seperti sudah sudah di langit, kala itu fotografer Radja membaca keluh kesahku. Dia lalu menghubungi dan mengatakan bahwa di kantornya ada lowongan reporter.

Aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Aku iyakan saja tawarannya. Diam-diam, aku pun mengirimkan lamaran kerja. Seminggu kemudian, sekretaris redaksi menelponku dan memintaku datang ke kantor untuk wawancara. Aku mengiyakan saja, padahal saat itu aku masih tinggal di Medan. Hari H wawancara aku pun tidak datang dan tidak memberikan konfirmasi. Hatiku tidak tenang. Aku merasa bersalah dan tidak professional.

Keesokan harinya, sang sekretaris kembali menelponku berkali-kali. Namun sang pengecut ini enggan mengangkatnya. Karena terus berdering, akhirnya aku menjawab panggilan itu. Aku pun mengaku bahwa aku tidak berada di Jogja. Lalu ia bertanya, apakah aku punya rencana untuk kembali ke Jogja. Ada, jawabku. Aku pun diminta untuk menghubunginya saat aku sudah kembali ke kota gudeg. Akupun mengiyakan.

Hebat!

Aku merasa takut karena aku belum membicarakannya sama sekali dengan orang tuaku. Aku takut mereka marah, karena aku baru saja pulang dari Jogja dengan membawa semua barangku; mulai dari hiasan dinding hingga motor Supra XX. Masak sih baru datang mau pergi lagi?

Tapi, aku memang selalu terdepan dalam meyakinkan orang tua yang pusing karena anaknya masih menganggur.  Aku pun berbohong. Aku bilang saja kalau aku diterima kerja di sebuah koran lokal di Jogja. Mereka pun senang dan mengizinkan aku untuk kembali. Sementara, aku masih belum yakin apakah aku diterima atau tidak.

Harinya pun tiba untuk pulang ke Jogja. Sepanjang perjalanan hatiku masih gamang dengan perjudian ini. Bagaimana kalau aku tidak diterima? Apa yang harus aku katakan ke bapak dan mamak? Sampai di Jogja, akupun melaporkan bahwa aku sudah datang dan segera diminta ke kantor untuk wawancara dengan pemimpin redaksinya yang bernama Pak Amin.

Dengan motor pinjaman, aku pun diantar oleh temanku, Ariyana Lestari. Wawancara berjalan dengan mulus, terlalu mulus malah. Aku diterima di sana. Hatiku girang bukan main. Lihat, lihat, akhirnya aku jadi wartawan.

Aku selalu merasa berjodoh dengan Radja. Kalau di perusahaan lain mungkin aku sudah masuk catatan hitam karena tidak profesional. Tapi, tidak halnya dengan relasi ini. Kalau sudah jodoh, memang selalu ada pembenaran untuk ke-tidak logis-an.

Suatu hari sebelum merayakan ulang tahun ke 14 koran itu, aku pun mengundurkan diri karena sudah tidak bisa lagi menyeimbangkan jadwal kerja dan kuliah. Ya, di tahun terakhirku di Radja aku memutuskan untuk kuliah lagi.

Hanya tiga tahun saja aku “sekolah” di Radja, tapi di situlah hidupku mulai tertata dan passionku mulai terbentuk. Kerja-kerja di lapangan membuat jiwaku bertumbuh. Oleh profesi dan prinsip di dalamnya, aku dipaksa untuk lebih bijaksana. Kesempatan untuk berkembang di luar kantor dan memproduksi tulisan yang apik, pun dibuka seluas-luasnya oleh redaksi. Itu yang aku rasakan pada saat itu, sebab aku tidak pernah mau tahu dan ambil pusing soal politik kantor.

Di Radja pula aku merasa sangat dihargai oleh atasanku. Berulang kali pimredku bilang bahwa dia sangat menyukai serial berita feature yang aku buat tentang komunitas pendidikan di Jogja. Saat itu aku memang sangat giat melakukan publikasi atas gerakan-gerakan yang diinisiasi anak muda. Mungkin itu hanya ucapan biasa saja dari atasan, tapi aku merasa sangat dihargai dengan kata-kata yang positif. Sesuatu yang sangat jarang aku dapatkan saat ini.

Sore ini, di awal April 2019, aku ingin mengucapkan terimakasih untuk kantor biru di utara Jogja itu. Kesediaannya untuk merangkulku telah membuah salah satu fase dalam hidupku menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat. Selamat Ulang Tahun Radja, rumah pertamaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s