Dak-Kalguksu

Aku harus cepat-cepat berlari dari taksi menuju pintu rumah mungil Icul. Berbekal tas ransel aku tutupi kepalaku dan bergegas menuju teras. Daun-daun hijau yang merambat lebat di dekat jendela tampak segar meski hujan sore ini seperti sedang marah. Tapi, jujur saja, aku lebih takut pada Icul yang tengah memaksa daripada hujan yang pamer amarah. “Aryo, … Continue reading Dak-Kalguksu

Politics Club

Lobi Fisipol sudah semakin sepi. Satu per satu mahasiswa beranjak ke arah parkiran. Langit yang kian muram membuat keheningan semakin nyata. Diam-diam Tatia mulai cemas. Ia lirik jam di pergelangan tangannya. Masih 15 menit lagi, pikirnya. Tatia menghempaskan tubuhnya ke bangku lobi dan membuka tutup kopi kaleng yang dibelinya dari koperasi kampus yang tak jauh … Continue reading Politics Club

Mengurai Sesal di Minggu Sore

Di Minggu sore aku terbangun berbeban risau.  Udara dingin tak bisa kompromi di musim kemarau seperti ini. Kamar terasa begitu beku. Kubergegas bangkit dari tempat tidur, memakai jaket yang sudah kukenakan seminggu dan menuju dapur.  Aku selalu begitu. Dapur mutlak kutuju ketika hati mulai meracau tak tentu. Aku akan mencuci piring atau membuat teh untuk … Continue reading Mengurai Sesal di Minggu Sore

Hari Bahagia di Delapan Putaran Negentropy 5 in E Major

Pada putaran lagu Negentropy 5 in E Major yang kedelapan, dia pejamkan matanya menuju tidur dalam yang sudah ditunggu-tunggu. Hari ini, ia sudah memutuskan akan bahagia selamanya. Di luar jendela, hujan badai bulan Januari begitu murka, seperti kumpulan keputusasaan yang tiada bertuan. *Putaran Negentropy 5 in E Major Pertama Tokohmu ini memulai hari dengan ceria. … Continue reading Hari Bahagia di Delapan Putaran Negentropy 5 in E Major